Jomblo dalam Kacamata Falsafah Siri na Pacce

    Dibaca 318 kali

Oleh : Amal Akbar, S.Pd., M.Pd

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar


Jomlo sering dianggap sebagai citra buruk bagi muda-mudi sebagai representasi tidak gaul, tidak gagah, tidak cantik atau bahkan tidak laku. Keadaan tersebut tidak jarang membuat muda mudi melakukan berbagai cara agar mereka bisa memiliki pacar dan terlihat sibuk di malam Minggu.

Akan tetapi status jomlo (tidak punya pacar) yang sering dicitrakan buruk ternyata bertentangan dengan konsep nilai siri sebagai falsafah hidup masayarakat Bugis dan Makassar.

Hal tersebut telah diatur dalam tata hububungan antara laki-laki dengan perempuan. Salah satu konsepsi siri yang mengatur hal tersebut adalah konsep malaweng luseq.

“Malaweng Luseq” merupakan delik adat yang sangat berat dan hina dari semua delik adat di Tanah Bugis Makassar. Perbuatan ini disebut “pangkaukeng oloq koloq” (perbuatan binatang). Wujud "pangkaukeng oloq koloq" berupa persetubuhan laki-laki dengan laki-laki (ma calabai/homoseksual), persetubuhan perempuan dengan perempuan (Mallaso-laso bangkeng/lesbian); persetubuhan laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim (Mappangaddi/berzina); dan lainya.

Perbuatan “malaweng luseq”, akan dikenakan pidana mati dengan cara ditenggelamkan ke dasar laut (ri labu) atau dibuang ke tebing.

Menurut pandangan lontaraq, perbuatan “malaweng luseq” merupakan sumber malapetaka bagi masyarakat. Oleh karena itu sanksi delik “malawéng”, pelakunya harus ditenggelamkan ke dasar laut, karena pantang tubuh dan darahnya mengenai tana (negeri) sehingga pelakunya harus ditenggelamkan ke dasar laut (ri labu) atau dibuang ke tebing.

Dalam Latoa dikemukakan berbagai keburukan apabila terjadi perbuatan “malaweng luseq” sebagai pantangan negeri (sapa ri tana/salimara), yakni: (1) Sungai mengering karena lemahnya mata air; (2) tanaman tidak berbuah, dan bila berbuah pun buahnya tidak akan jadi; (3) saling sengketa antara rakyat dalam negeri, karena tidak bersesuaian pendapat antara rakyat dan raja, dan “to pabbicara” (hakim); dan (4) keburukan lain.

Bala sebagai akibat dari perbuatan malaweng luseq tersebut telah tertanam dalam jiwa masyarakat Bugis Makassar yang masih merasa memegang teguh konsep siri na pacce.

Kenyataan lain, di Makassar, ada salah satu etnis dari luar Sulawesi Selatan dan Barat yang menganggap hidup bersama tanpa ikatan (kumpul kebo) sebagai hal yang lumrah dan mereka anggap hal tersebut sah secara adat. Pun jika mereka menganggap hal tersebut sebagai hal yang lumrah di daerah mereka, setidaknya mereka bisa menghargai falsafah budaya dan agama masyarakat Sulawesi Selatan. Sebab jika masyarakat Makassar yang paham tentang konsep siri merasa falsafah siri na pacce seolah diinjak-injak, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi gesekan yang mengarah pada konflik horizontal.

 

 

 

Bagikan Berita Ini: