Golkar Pasca Setya Novanto

    Dibaca 120 kali

 

Oleh : Notrida Mandica
Anggota  Dewan Pakar DPP Partai Golkar


Hiruk pikuk tentang siapa pemegang tongkat  estafet kepemimpinan Setya Novanto (SN)  mulai merambah partai berlambang Beringin,  Partai Golkar (PG) ini.  


Nama - nama yang santer disebut sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum mulai menguak. 

Di antara nama itu,  ada nama Idrus Marham (IM), Sekretaris Jenderal (Sekjend) PG,  yang  selalu berada di depan saat SN mulai terkait kasus e-KTP. 

Status sebagai Sekjend memberi peluang untuk bertugas sebagai plt. Ada Titiek  Suharto (TS) sebagai politisi  yang cukup  disegani,  apalagi SN pernah bekerja untuk keluarga besar TS.

Disebut pula nama Firman Subagyo (FS)  Ketua Komisi VI yang dikenal bersih dan pro kebijakan untuk petani kecil. Ada nama Airlangga Hartarto (AH)  saat ini menjabat sebagai Menteri Perindustrian. 

Sempat santer nama Nurdin Halid (NH) disebut sebagai calon kuat. Tapi semoga saja NH memilih kontes Gubernur Sulsel  2018. 

Selain nama - nama di atas peran tokoh tokoh PG seperti Abu Rizal Bakri (ARB), Akbar Tanjung (AT) dan Agung Laksono (AL) serta tentu saja Wakil Presiden Jusuf Kala (JK) sangat krusial dalam penentuan Plt Ketum PG. 

IM, TS, FS dan AH tidak diragukan lagi adalah tokoh muda yang memiliki karakter kuat dan kepemimpinan yang handal. 

Namun demikian, dalam kondisi tak menentu ini,  seharusnya PG dikendalikan oleh tokoh senior guna mempersiapkan Musyawarah Nasional (Munas) atau Munas Luar Biasa (Munaslub). 

Campur tangan tokoh senior seperti AT, ARB,  dan AL atau Tripple  A ini sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan PG dari badai buatan kekuatan besar di sekeliling PG.  

Beberapa alternatif langkah yang dapat ditempuh : Pertama,  Tripple A membentuk Presedium PG, meski ini tak dikenal dalam AD/ART PG, namun dalam krisis seperti ini bisa dipertimbangkan.

Kedua,  Tripple  bersepakat menunjukkan  salah satu di antara mereka untuk memimpin dan membawa PG ke arah keseimbangan atmosfer politik menghindari perebutan kekuasaan yang anarkis.

Ketiga, Tripple A menunjuk AL karena selama ini AL telah berperan penting menstabilkan PG dari gempuran internal dan eksternal sedari awal SN terseret  kasus e-KTP.  

Menurut hemat saya,  AL akan mampu merangkul  semua pihak karena kecenderungan gaya politik AL yang anti konflik.  

Selain itu, AL sangat hati - hati bersikap dan bertutur sehingga mampu menenangkan setiap komponen  dalam partai. 

Karena itu, setidaknya  Tripple A dapat mengantar PG dalam masa transisi kekuasaan menuju perimbangan kekuasaan internal dan eksternal PG.  

Jika PG memaksakan  penunjukan Plt Ketum di luar Tripple A, bisa dipastikan Pasca SN, PG akan karam akibat konflik internal. #saveGolkar

 

Bagikan Berita Ini: