DPKH Sulsel Laksanakan Pemurnian Genetik Sapi Bali

    Dibaca 134 kali

Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel, Ir. Hj Hermawaty (kedua kiri), Kepala UPTD Pembibitan dan Hijauan Ternak Puca’, Drh. Nurlina Saking, SH, M.Kes, MH (kiri), dan Kepala BBIP Singosari Malang Jatim, Drh. Enniek Herwijanti, MP (kedua kanan) dan staf BBIB, Ardiana di Kantor DPKH Sulsel, Kamis,  7  Desember 2017. (foto : nasrullah)


MAKASSAR, LATEMMAMALA.COM; -- Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Provinsi Sulsel  telah melaksanakan  pemurnian genetik Sapi Bali di UPT Pembibitan dan Hijauan Pakan Ternak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan  Sulsel  kerjasama dengan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari Malang Jawa Timur.

Kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan kerjasama Kepala DPKH Provini Sulsel, Ir. H. Abdul Azis, MM dengan Kepala  BBIB Singosari Malang Jawa Timur, Drh. Enniek  Herwijanti, MP, di Kantor DPKH Sulsel, Kamis, 7 Desember 2017. Dihadiri Sekretaris DPKH Sulsel Ir. Hj. Hermawaty. 

Kepala UPT Pembibitan dan Hijauan Ternak Puca’ DPKH Sulsel, Drh. Nurlina Saking, SH, M.Kes, MH, mengatakan, pemurnian genetic Sapi Bali yang dilaksanakan ini adalah persilangan sperma beku Banteng Cross dengan Sapi Bali yang ada di UPTD Pembibitan  Ternak  Puca’ Maros. "Semen Beku Banteng Cross adalah sperma Sapi Bali asli  yang didatangkan dari BBIB Singosari Malang Jatim,” ujar Nurlina Saking.

Pemurnian Semen Beku Banteng Cross dengan Sapi Bali milik UPTD Pembibitan Ternak Puca’ Maros ini diharapkan menghasilkan genetic Sapi Bali sampai 95 persen. “Untuk tahap pertama UPTD Puca’  membutuhkan 100 Straw (semen) untuk 100 ekor Sapi Bali betina indukan dan 2018 diprogram lagi untuk 100 ekor. Berharap 9 bulan ke depan sudah ada yang melahirkan anak Sapi Bali asli,” ujar Nurlina.

Untuk memastikan  hasil persilangan ini murni asli Sapi Bali maka dilakukan pemeriksaan genetik di labortorium, apakah hasilnya ini betul-betul sudah mencapai 95 persen Sapi Bali asli. “Dari hasil pemeriksaan laboratorium baru akan  diketahui, sapi yang dihasilkan ini sudah betul-betul murni Sapi Bali asli,” ujarnya.

Ada beberapa alasan dikemukakan Kepala UPTD Pembibitan dan Hijauan Pakan Ternak Puca’, Drh.  Nurlina Saking,  mengapa melakukan pemurnian genetic Sapi Bali, dari sisi budaya Sapi Bali itu sudah puluhan tahun dikenal oleh masyarakat peternak sehingga sangat sulit beralih kepada ternak lainnya. Kalaupun itu ada itu terbilang sangat sedikit peternak.

Alasan lainnya dari segi ekonomi, karkas Sapi Bali lebih tinggi dibanding dengan sapi-sapi jenis lainnya. Kalau Sapi Bali karkasnya bisa mencapai sampai 56 persen, sementara sapi jenis lainnya hanya sekitar 48 persen nilai karkasnya.

Dijelaskan, ada lagi keunggulan lainnya dari Sapi Nali ini jika dibandingkan dengan sapi eksotik, Sapi Bali dalam cuaca ekstrim masih bisa bertahan, begitu pula dengan kondisi pakan yang ekstrim juga masih bisa bertahan. “Inilah mengapa Sapi Bali asli ini perlu terus dilestarikan, tetapi bukan berarti sapi eksotik tidak dikembangkan. Karenanya dengan kerjasama BBIB Singosari Malang Jatim ini  lebih pada pemurnian Sapi Bali asli dan perbaikan performnce atau penampilannya,” kuncinya. (nasrullah)  

 

 

Bagikan Berita Ini: