LPPM UMMA Gelar Seminar Internasional

    Dibaca 80 kali

 

Citizen Reporter 

Laporan: Ahdan Sinilele

Sekretaris LPPM UMMA


MAROS, LATEMNAMALA. COM; -- Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muslim Maros (LPPM- UMMA) menggelar Seminar Internasional, Selasa 9 Januari 2018.

Dr. Antje Missbach, dosen dan peneliti dari Monash University Australia, menjadi pembicara tunggal dalam seminar sehari itu.

Seminar tersebut dihadiri Rektor UMMA, Prof. Nurul Ilmi Idrus, M.Sc, Ph.D, para dosen dan mahasiswa. 

Dr. Suhartina, M.Hum, bertindak sebagai moderator pada seminar tersebut memimpin jalannya pembahasan tentang hubungan Indonesia dengan Australia. 

Tema sentral seminar adalah Big Fears about Small Boats, How Asylum Seekers Keep Upsetting the Indonesia-Australia Relationship.

Antje Missbach yang berkebangsaan jerman tersebut banyak menyoroti tentang pasang surut hubungan Indonesia-Australia. 

Mulai dari pemerintahan Perdana Menteri John Howard (Australia) sampai pada masa Irde Baru di bawah pemerintahan Suharto, Susilo Bambang Yudhoyono, sampai pada masa pemerintahan Joko Widodo.

Menurut Antje Missbach, hubungan Indonesia Australia merupakan hubungan persahabatan dua negara tetangga, namun dipenuhi kecurigaan. 

Salah satu penyebab kecurigaan itu, adalah isu-isu tentang manusia perahu pencari suaka melalui Indonesia dengan tujuan Australia.

Indonesia merupakan salah satu negara penerima pengungsi dari berbagai negara seperti Srilangka, Afganistan, Iran, Pakistan, Nigeria, Somalia dan Rohingya.

Meskipun jumlah pengungsi hanya kurang lebih 15 ribu jiwa, namun hal ini menjadi permasalahan tersendiri bagi Indonesia-Australia.

Selain masalah pengungsi dan pencari suaka, pemicu ketegangan lainnya adalah peredaran narkoba yang melibatkan 2 orang warga negara Australia yang di eksekusi mati oleh pengadilan Indonesia.

Kasus bom Bali yang menewaskan banyak warga negara Australia, keterlibatan Australia dalam referendum Timor Leste yang menyebabkan lepasnya Timor Leste dari Indonesia. 

Serta kecurigaan adanya provokasi tentang Papua Barat untuk melepaskan diri dari Indonesia.

Demikian juga dengan beberapa warga negara Indonesia yang dipenjara di Australia serta keterlibatan Australia dalam penyadapan handphone presiden dan pejabat tinggi Indonesia.

Meski demikian, beberapa hal yang menjadi perekat hubungan Indonesia dengan Australia yakni peristiwa tsunami di Aceh yang banyak melibatkan Australia di dalamnya serta peristiwa gempa bumi di Yogyakarta.

Besarnya peran Australia dalam peristiwa kemanusiaan tersebut menjadi perekat hubungan Indonesia dengan Australia. 

Agar hubungan Indonesia dan Australia bisa lebih harmonis dan bersifat langgeng, maka kedua negara bertetangga harus bisa menahan diri dan menempatkan posisi masing-masing sebagai negara bersahabat.

 

Bagikan Berita Ini: