Kupu-kupu dan Kesuksesan Anak Muda

    Dibaca 396 kali

 

Oleh : Silva Roza

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Ekasakti Padang Angkatan 2014

 

Didunia ini, siapa yang tidak ingin sukses, hanya saja kesuksesan yang ingin diraih beragam hal. Tergantung keinginan, niat dan pola pikir pribadi manusia tersebut. Ada yang ingin sukses dari sisi agama, ekonomi, sosial, akademis maupun politik. Mereka yang di usia tua maupun muda, ingin sekali sukses. Namun untuk sukses tidaklah gampang. Banyak halang rintang yang akan menjadi cerita hidup yang membekas seiring berjalannya waktu.

Hari ini, Indonesia memiliki 200 juta jumlah penduduk dan bersiap menghadapi bonus demografi di tahun 2030. Jaman yang disebut akan ada sekitar 70 persen penduduk Indonesia berada di masa produktif kerja, yakni; antara usia 15-64 tahun. Sedangkan 30 persen lainnya berada dalam usia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun.

Menyikapi era bonus demografi ini, Indonesia dipaksa untuk sukses. Seluruh penduduk Indonesia akan aktif bergerak dan membicarakan keinginannya untuk meraih impian. Diperkirakan laju aktifitas penduduk Indonesia akan lebih cepat sekitar 500 persen dari hari (tahun 2018-red). Dengan semakin cepatnya rutiniras manusia, pastinya semakin banyak pula tantangan dan halang rintang yang menguji mental dan kemampuan individu masing-masing.

Tak ayal, saat ini anak muda sedang berlomba-lomba untuk sukses. Mereka gigih mengeksploitasi kemampuan yang dimiliki. Seperti halnya Nadiem Anwar Makarim (33 tahun) yang merupakan pendiri serta CEO Go-Jek, sebuah perusahaan transportasi dan penyedia jasa berbasis daring. Pada tahun 2006, Nadiem memulai kariernya sebagai konsultan manajemen di McKinsey & Company. Setelah memperoleh gelar MBA, ia terjun sebagai pengusaha dengan mendirikan Zalora Indonesia. Di perusahaan tersebut ia juga menjabat sebagai Managing Editor. Setelah keluar dari Zalora, ia kemudian menjabat sebagai Chief Innovation Officer(CIO) Kartuku, sebelum akhirnya fokus mengembangkan Go-Jek yang telah ia rintis sejak tahun 2011.Saat ini Go-Jek merupakan perusahaan rintisan terbesar di Indonesia. Pada bulan Agustus 2016, perusahaan ini memperoleh pendanaan sebesar USD 550 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun dari konsorsium.

Lihat juga Sutan Riska, Bupati Kabupaten Dharmasraya periode 2016-2021. Di usianya masih 26 tahun, dirinya sudah menjadi seorang Bupati. Lawannya, tak lain Bupati sebelumnya, yakni; Adi Gunawan. Sebuah prestasi yang gemilang di usia muda kala banyak orang yang meragukan sosok Sutan Riska. Sekarang, dirinya dinobatkan sebagai kepala daerah termuda di Indonesia.

Contoh pemuda yang sukses di Indonesia hari ini cukup banyak. Namun, lebih banyak juga pemuda yang stress dalam meraih kesuksesan dan impian mereka sendiri. Hal ini jelas menjadi PR bagi Indonesia bagaimana mewujudkan pemuda-pemuda sukses di era Bonus demografi nantinya.

Kesuksesan bisa diraih jika jeli melihat peluang, potensi pribadi, kerja keras dan kesempatan. Layaknya sebuah kupu-kupu yang cantik dan bisa terbang bebas sembari menikmati sari bunga, harus melewati masa sulit terlebih dahulu. Kesulitan ini kita ibaratkan saat si kupu-kupu masih menjadi ulat yang notabene lambat, jelek dan menjijikkan. Namun, apa yang dilakukan ulat untuk sukses? Dirinya bekerja keras mengeluarkan air liur dan melilitkannya ke seluruh tubuh. Dalam masa ini, si ulat akan merasakan perjuangan, ancaman, kebosanan dan tersiksa di ruang yang kecil (kepompong-red). Tapi itulah usaha dan proses, saat si ulat sudah menjadi kupu-kupu, ia sangat cantik dan bebas berkelana kemana saja. Hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain menghisap sari bunga yang manis. IniSi ulat tak lagi lambat, jelek dan menjijikkan.

Mereka yang telah sukses di usia muda, dapat dilihat bahwa keinginan dan niatnya begitu besar dan selalu memprioritaskan tujuan. Pastinya, untuk meraih hal ini haruslah keluar dari zona nyaman. Kurangilah bergaya hidup lalai, hura-hura, bermain, pacaran dan foya-foya. Pasalnya di era Bonus Demografi, persaingain kerja, impian dan cita-cita akan semakin ketat. Tak hanya berasal dari dalam negeri, bonus demografi juga akan terjadi di beberapa negara di Asia seperti Jepang, Malaysia, Kamboja dan China. Jika lengah, Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia akan tetap berada di bawah negara lain dan tidak mampu bersaing secara global. Kemerdekaan yang kita rasakan hari ini, dipastikan akan tergerus dengan semakin sedikitnya pemuda yang sukses dan kreatif. Butuh pendewasaan dan kesadaran dalam memaknai apa yang ada dalam tulisan ini agar di masa yang akan datang, kehidupan sosial, ekonomi dan harga diri masyarakat Indonesia bisa terwujud sepenuhnya seperti layaknya orang yang sudah merdeka 100 persen.

Bagikan Berita Ini: