Telisik Back Ground Berdirinya Rumah Adat Sao Mario di Soppeng

    Dibaca 785 kali

 

Sebuah Catatan dari Hasil Berbincang Santai dengan Pemilik Rumah Adat Sao Mario di Soppeng, Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, S.H., M.H.


Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, S.H., M.H. ditemui di rumah adat miliknya, Rumah Adat Sao Mario, terletak di Batu-batu, tepatnya di Awakkaluku Desa Laringgi Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan, Minggu, 7 Januari 2018.

Selain rumah adat, Prof. Andi Mustari ini juga dikenal sebagai orang Bugis yang sukses di tanah rantau. Salah satu yang membuat empat orang dari Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Soppeng, yakni; Andi Agus Salim Wittiri (CendekiaNews), FAS Rahmat KAMI (Breaking Sulsel), Buhari Abu (Soppeng Terkini) dan Alimuddin (Lamellong.com) berobsesi menemuinya, Perguruan Tinggi yang dipimpinnya cukup dikenal, bukan hanya di Indonesia tetapi juga hingga di manca negara.

Universitas Ekasakti (UNES) Padang Sumatera Barat, Prof. Andi Mustari ini adalah rektornya. Bahkan yayasan yang menaungi perguruan tinggi tersebut pun miliknya. Beberapa kali event Internasional dari berbagai Perguruan Tinggi, dari beberapa negara, dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan dari sudut pandang universal, UNES Padang Sumatera Barat kerap jadi tuan rumah.

Mengenang saat - saat sosok Andi Mustari meraih gelar doktornya di luar negeri,, dirinya pun melancong ke negara Paman Sam Amerika Serikat di tahun 70-an. Ia pun menyempatkan diri berjalan - jalan di beberapa kota. Karena Andi Mustari ini, telah menginjakkan kaki di negeri Cina, dengan keberadaannya di salah satu kota di negeri Paman Sam tersebut, dirinya pun menyatakan, sesungguhnya ia merasa kalau saat itu ia berada di kota Cina. Di kota ini, mulai dari arsitek bangunan, suaana di warung, seni yang ditampilkan hingga model pakaian, semuanya dengan ala Cina.

Merespon pernyataan Andi Mustari, salah satu penduduk di kota itu, mengaku orang cina, tapi kakek, orang tua dan dirinya sendiri sudah lahir di Amerika Serikat, mengatakan, "kami ini warga negara Amerika tetapi kami adalah orang Cina, di mana pun kami berada dan kapan pun budaya kami tetap kami bawa dan kami terapkan sebagai orang Cina," bangganya.

Menyimak pernyataan orang Cina ini, Andi Mustari pun tertegun, "apa yang harus saya perbuat untuk bangsa saya sebagai orang Bugis di Indonesia," pikirnya. Orang Bugis harus dibuat bangga sebagai orang Bugis, mencintai adat istiadatnya yang dinilai masih relevan dengan perkembangan ke-Indonesiaan, mencintai sejarahnya.

Dari sinilah, Andi Mustari terinspirasi hingga mendirikan Rumah Adat Sao Mario di akhir tahun 1989, berdirilah rumah adat Bugis Mandar, Tator, Bone dan Soppeng di atas tanah seluas kurang lebih 2 Ha, setelah segala procedure formal dan informal dipenuhi kepada stakeholder.

Prof. Andi Mustari ini pun menolak kalau rumah adat ini adalah miliknya, tetapi ini adalah milik orang Bugis, katanya merendah.

Menarik memang, walau hanya sekilas berbincang santai dengan sosok Professor ini, begitu penuturan Andi Agus Salim Wittiri, diamini 3 wartawan yang menemaninya kala itu.

Sedikit mengulas soal politik di tengah riak - riak Pemilukada akhir - akhir ini. "Tak perlu heran dengan segala yang terjadi terkait dengan Pemilukada serentak ini, nuansa Pilpres 2019 sangat mempengaruhi," katanya.

Dalam memimpin suatu daerah, seorang pemimpin haruslah melihat permasalahan sebelum bertindak, kapan saatnya, mendahulukan yang baik dan kapan saatnya mendahulukan yang benar. Di sinilah kepiawaian seorang pemimpin dalam menentukan sikap.

Dikatakan pula, seorang pemimpin haruslah mencermati, segala permasalahan yang timbul dalam memilih untuk menentukan sikap dalam problem solving. Kapan saatnya mendahulukan penyelesaian masalah dengan "Pokok Masalah atau Masalah Pokok," urainya.

Pemimpin pun haruslah bisa mencermati, kapan saatnya harus jalan di atas jalan biasa dan kapan pula saatnya harus berjalan di atas jalan tol.

Berbincang dengan Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, S.H., M.H., membuat keempat wartawan ini merasa bertambah wawasan nuansa berpikir bukan hanya untuk kehidupan di dunia ini dalam berbangsa dan bernegara tapi lebih dari pada itu bahkan menjadi bekal menuju akhirat. (a. agus wittiri/fas rahmat kami/buhari abu/alimuddin)

 

 

Bagikan Berita Ini: