Arab Saudi VS Amerika Serikat

    Dibaca 371 kali

Oleh : Muhamad Riswan

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  (FISIP) Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Eksakti (UNES) Padang Sumatera Barat Angkatan Tahun 2014


SIAPA yang tak kenal negara Amerika Serikat, negara yang mendapat sebutan super power. Dengan kemajuan ekonomi, teknologi dan peradaban dengan gaya baratnya.

Dan siapa yang tidak kenal Arab Saudi, negara kerajaan yang mashur tersebab ada Ka'bah, kiblat umat muslim sedunia. Negaranya kaya karena memiliki sumber daya alam minyak, dengan ciri khas gaya Timur Tengah.

Amerika dan Arab adalah dua negara berbeda gaya tapi sama rasa. Kedua negara ini rakyatnya sejahtera dan makmur. Maka di dua negara beda benua ini stabilitas keamanan negerinya relatif stabil, untuk saat ini.

Negara Amerika berdiri berdasarkankan idealisme liberal, oleh Thomas Jefferson disebut idealisme yang menjamin hak hidup bebas, dan pengejaran kebahagiaan. Amerika merdeka dari Inggris berkat bantuan Perancis pada tanggal 4 Juli 1776. Pada tahun inilah lahir Kontinental kongres di kota Philadelpia.

Sementara Arab Saudi berdiri menjadi negara kerajaan setelah mendapat bantuan dari Inggris. Tepatnya tahun 1902, dinasti Saud menyerang dan merebut kota Riyad dari kekuasaan Khilafah Islamiyah Usmaniah yang terpusat di Turki.

Arab dan Amerika sebenarnya baru menjadi negara sahabat pada tahun 1933. Seiring dengan ditemukannya ladang minyak. Amerika mendapat hadiah besar Arab dengan rela hati memberinya konsesi pengelolaannya dalam masa 60 tahun.

Dalam perjalanan sejarah, Amerika sudah berganti Presiden hingga 44 kali. Dan yang membuat menarik, dengan pemerintahan menjunjung tinggi atas nama demokrasi.

Peran Amerika di kancah dunia di militer, ekonomi dan teknologi sangat berpengaruh terhadap hitam putihnya dunia.

Sementara di Kerajaan Arab, pergantian pucuk pimpinan menganut sistem kerajaan, yakni turun-temurun dari dinasti Suud. Dalam sebuah literatur disebutkan, keturunan dari Suud lebih dari 100-an orang. Raja Arab ini mempunyai isteri banyak, dengan taktik menikahi putri tetua suku- suku sebagai langkah pemersatu.

Peran Arab Saudi di dunia terutama Negara Islam dihormati karena adamya dua kota peninggalan Nabi, yaitu; Makkah dan Madinah. Tetapi dalam kancah politik Arab Saudi lebih cenderung bersikap mendua dalam memandang problematika umat Islam terutama soal Palestina dan Yerusalem.

Hal ini diperkirakan tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Arab Saudi yang bersekutu dengan blok barat yaitu Inggris. Sementara Inggris dan Perancis, adalah sekutu Amerika Serikat.

Sedangakan Palestina dan Yerusalem oleh negara barat jelas ada keterkaitan benang merah sejarah dari golongan ahli kitab Yahudi.

Dalam kontek hubungan persahabatan antar negara Arab Saudi menjadi sekutu Amerika di kawasan Timur Tengah . Ditandai dengan kerjasama di pangkalan militer untuk zona kawasan Teluk.

Dan yang membuat berang sebagian negara Islam, Arab Saudi menyediakan pangkalan udara bagi Amerika untuk menggempur negara-negara Islam seperti Irak, Iran dan Afganistan.

Dalam kontek ibadah yakni adanya Makkah dan Madinah, membuat sejumlah negara Islam ikut mengkritisinya. Terutama dalam pelayanan menjaga dua kota peninggalan Nabi Muhammad SAW, Makkah dan Madinah.

Sejarah membuktikan keberadaan Makkah dan Madinah sejak zaman Nabi Muhammad, sahabat, lalu kekhalifahan. Siapapun yang memimpin maka Makkah dan Madinah selalu dipelihara dan terpelihara.

Dengan sikap politik ganda Arab Saudi membuat hubungan yang kurang sinergis sesama negara muslim. Secara tersurat dan tersirat menyatakan. Agar ritual ibadah haji tidak dijadikan alat oleh kerajaan Arab Saudi untuk membungkus alat politik. Sebab Makkah dan Madinah milik semua umat muslim.

Dalam kontek agama, Makkah dan Madinah menjadi kiblat umat Islam. Tapi dalam persoalan keberpihakan politik, bisnis apalagi teknologi, Arab Saudi bukan kiblat negara-negara muslim.

Dilarangnya warga Irak menunaikan ibadah haji pada tahun 2016 lalu tidak terlepas dari kurang harmonisnya hubungan antara dua negara muslim ini. Irak cenderung melawan Amerika sedangkan Arab Saudi - bersetia kawan dengan Amerika.

Kembali pada kontek melihat kedua negara pada era dunia modern. Di Amerika kebebasan dan persamaan hak menjadi andalan dalam pandangan hidup. Negerinya maju rakyatnya makmur. Kehidupan sosialnya sangat ramah dan saling menghargai. Meski sisi gelapnya kriminalitas, dan kebebasan gaya hidup juga tinggi.

Kedisiplinan dan komitmen membangun negara yang bersih membuat Amerika, disebut lebih Islami dalam kehidupan bermasyarakat. Hanya satu yang membuat beda yakni Amerika tidak ber-Tauhid.

Menurut penuturan beberapa orang Indonesia yang sudah pernah tinggal di Transit kawasan Zahir Makkah, dalam bertetangga warga Amerika sangat mengutamakan dan menghormatinya. Bahkan mereka suka menawarkan diri untuk saling menjaga anak atau rumah jika ada yang bepergian.

Mereka saling menghormati dalam menjaga lingkungan rumah. Mereka tak segan-segan untuk menolong menjagakan anak-anak.

Di negara adi kuasa, Agama dan negara dipisahkan, Agama bukan jadi perkara yang penting. Warganya bebas untuk ber-Tuhan dengan apa saja asalkan saling menghormati dan menghargai antara sesama.

Kebebasan beragama disamakan dengan kebebasan bebas lainnya. Di antaranya paham lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Di Amerika, kelompok ini tidak ditutup- tutupi, mereka memasang bendera di depan rumahnya untuk mengatakan eksistensi mereka sebagai LGBT.

Amerika adalah Tanah Harapan. Demikian warga negaranya mengatakan. Mengingat terbukanya Amerika terhadap semua orang yang datang mengejar dan menaruh mimpi untuk merubah kehidupan yang lebih mapan.

Negara yang cikal bakalnya ditemukan oleh Cristopus Columbus ini, memilih sistem federal untuk mengikat persatuan bangsanya. Kalau di Indonesia dengan NKRI-nya. Sistem federal telah membawa Amerika maju dan jaya.

Ibukota Arab Saudi bernama Riyad, tetapi yang membuat tersohor dan mashur bukan Riyad melainkan kota Makkah dan Madinah. Dua kota ini menjadi kekuatan magnet yang luar biasa untuk menarik perhatian umat se-dunia. Tidak hanya dalam prosesi keagamaan tetapi juga ladang perdagangan.

Tersebab inilah dua kota di hamparan gurun pasir dan bukit terjal berbatu ini keramaian dan kemakmuran penduduknya mengalahkan negeri yang subur seperti Indonesia.

Dengan penghasilan besar dari sumber daya alamnya, rakyat Arab yang kerja maupun tidak kerja mendapatkan subsidi yang cukup. Setiap anak lahir berhak atas subsidi untuk kebutuhan hidup dari makan, kesehatan dan pendidikan.

Dari geografis dan kondisi alam, maka Amerika dengan Arab berbeda seratus derajat. Arab gurun pasir, Amerika hamparan rumput hijau. Arab berbukit terjal dan berlembah batu, Amerika berbukit hutan menghijau dan berlembah sungai yang mengalirkan air jernih.

Membandingkan kedua negara ini Dari geografis dan cuaca jelas sangat berbeda. Dan perbedaan paling nyata antara Arab dan Amerika pada pandangan hidup dan gaya hidup.

Modis Versus Gamis

Amerika mengusung panji demokrasi, bersifat terbuka untuk semua umat manusia. Amerika bergaya modis, Arab bangga dengan gamis. Arab sebuah kerajaan dengan aturan syariat Islam. Amerika dengan sekulernya.

Khusus di kota Makkah dan Medinah terdapat tanah halal dan tanah haram. Ada bumi yang tidak boleh dimasuki selain orang muslim. Non muslim dilarang masuk.

Sedangkan Amerika seluruh ceruk wilayahnya bebas dikunjungi. Tidak ada batasan diperbolehkan atau dilarang, asalkan punya uang dan urusan visa keluar - silahkan berlayar ke Negara Paman Syam.

Untuk mendapatkan visa ke Amerika lebih ketat dan rumit dibandingkan ke Arab. Waktu mau masuk cek visa di bagian Imigrasi Amerika juga lebih ketat. Apalagi sejak kejadian peristiwa runtuhnya menara WTC.

Tidak semua orang bisa masuk Amerika meski visa sudah di tangan. Jika pada wawancara kedutaan Amerika di Jakarta atau tidak berkenan dengan mudahnya kedutaan Amerika menolak - diberikan surat warna merah.

Tiap hari ratusan turis atau yang mengurus bisnis berdatangan ke Amerika. Keramaiannya sama seperti di bandara Jeddah Arab. Antrian panjang mengular di cek in paspor di bandara.

Dari perbandingan tersebut ada satu perkara menarik. Penulis mendapatkan bahan informasi terkait lika- liku asimilasi dari perkawinan.

Amerika yang mengusung persamaan hak telah sukses menghapus politik aparheid dan perbudakan. Warna kulit dan dari mana anda datang punya hak sama. Di Amerika kebebasan dan hak azazi manusia dalam segala aspek kehidupan.

Hasilnya terjadi perpaduan dan percampuran peradaban. Tidak ada larangan kulit putih menikahi kulit hitam, dan tak ada pantangan orang mata sipit kawin dengan mata biru.

Bahwa siapa saja yang hidup di Amerika punya kesempatan yang sama. Mereka menjalani kehidupan dengan kompetensi dan profesionalisme. Siapa cerdas dia dipakai, siapa unggul dia menang. Tidak heran peradaban yang diraih Amerika terutama dalam bidang teknologi sampai detik abad ini, menjadi Kiblat dunia.

Bagaimana dengan Arab Saudi. Di bumi tempat diturunkannya wahyu untuk nabi Muhammad untuk memperbaiki akhlak manusia. Di bumi yang melalui perantara nabi tidak diperbolehkan perbudakan jauh sebelum Amerika menerapkanya.

Di bumi yang dengan firman Allah katakan kami ciptakan manusia berbeda suku dan bahasa untuk saling kenal mengenal. Ketetapan wahyu yang menyamakan semua manusia. Hanya kadar taqwa yang membedakannya.

Fakta yang terjadi, anda laki-laki Indonesia tolong berpikir ulang sejuta kali jika akan menikahi wanita Arab. Kenapa wanita Arab yang nikah dengan pria beda trah Arab akan dihapus garis nasab keluarga besarnya. Kemudian dicabut hak subsidi jatah kebutuhan hidup bulanan dari kerajaan Arab.

Tidak hanya itu, untuk menikahi wanita Arab harus mengukur dalamnya saku celana.- Untuk antaran minimal harus ada duit 500 ribu real atau setara Rp 1,4 miliar. Di samping kebutuhan material juga harus siap stamina untuk pemenuhan kebutuhan batin, yang menurut cerita sebut saja Salim. Seorang sopir dari Indonesia - bahwa stamina Arab sangat ganas luar dalam.

Sebut saja untuk keuangan bisa lipat 10 kali dibandingkan di Indonesia. Kata Ustad Ali Ambar mantan mahasiswa Timur Tengah dan kini sebagai dosen STAIN Bengkalis, iya menulis dalam blognya. Satu porsi makan tidak cukup seekor ayam. Minimal 5 ekor. Bermakna makan, dan shoping menjadi kesenangan wanita Arab.

Sebaliknya pria Arab punya kebebasan mengambil wanita dari mana saja. Aturan yang beda membuat kisah akhir yang berbeda pula nasab dan nasibnya. Jika wanita di Puncak Bogor dikawini pria Arab, maka anak yang dilahirka berhak atas silsilah turunan.

Untuk urusan kawin di Puncak Bogor, penulis belum dapat referensi dari wanita Indonesia - yang dikawini pria Arab. Apakah cukup kawin siri atau kawin resmi.

Bayangan beratnya menikahi wanita Arab membuat para lelaki warga negara dari luar arab yang bekerja di Arab bertahan jomblo. Padahal kontrak kerjanya sampai puluhan tahun. Bagaimana cara memenuhi kebutuhan batin mereka.

Tidak hanya masalah kebutuhan hidup dan ranjang. Jika ada niat menyunting wanita Arab maka menabunglah . Setelah tahu berapa jumlah minimal nominal angka untuk antaran. Maka Jika anda berat menggenapi minimal
Duit sebesar 500 juta real, urungkan saja. lebih baik hasrat dipendam saja.

Haji dan Bisnis

Mari sekarang kita bicara serius dalam bab ibadah haji. Inilah Arab Saudi. Haji dan umroh bagi Arab sama dengan niaga atau bisnis. Meski dengan bahasa agamis, Arab memuji diri sebagai pelayan dua kota suci. Maka dengan senang hati kerajaan Arab menerima semua bangsa. Beda banget ketika bicara perkawinan.

Pada tataran ibadah semua muslim masuk ke Makkah dan Madinah dihalalkan. Datangnya jutaan muslim bermakna mengalirnya dolar dan riyal ke Arab.

Maka untuk memanjakan dan pemenuhan hajat orang belanja baca shoping Arab tak segan menggandeng pengusaha barat terutama Amerika. Arab juga menjalin keakraban dengan Cina dan Korea.

Pelataran Masjidil Haram dibangun hotel dan pusat perbelanjaan megah juga menggandeng Amerika. Proyek transportasi dan yang sedang dikerjakan saat ini, yaitu rel kereta api serta infrastruktur bangunan juga banyak di kerjakan Cina.

Pada tatanan bisnis tidak terlepas peran pengusaha Amerika, Cina dan negara- negara non muslim. Barang dan benda mewah seperti mobil, perabotan rumah tangga, alat elektronik adalah produk dari negara Amerika, Eropa, Cina serta Korea.

Pernak-pernik peralatan untuk sholat nyaris tak ada yang produk Arab sendiri. Dari tasbih, sajadah, kopiah, gamis, hingga mie instan sampai mainan. Produk Indonesia, sarung, kain tekstil dan Indomie Ikut meramaikan Mall dan Toko Arab.

Arab dan negara Islam ini masih bangga dengan produk negara non muslim. Saya tak mendapatkan jawaban saat dihadapkan pada kenyataan, terkadang kita menghujat peradaban lain tetapi kita dengan senang bahkan bangga menggunakan produk Yahudi.

Mari kita bandingkan dua kota di Arab dan dua di Amerika. Makkah dan Mdinah dengan Philadelphia dan New York. Dua kota di Arab dan Amerika Serikat ini jika kita bandingkan ada persamaan dan perbedaan.

Pada tataran peradaban dunia sebagai muslim saya akan mengatakan Mekah dan Medinah adalah tanah peradaban Islam yang tidak akan tertandingi oleh popularitas kota atau negara manapun serta keyakinan apapun.

Karena di dua kota ini ajaran Tauhid - telah membedakan antara muslim dan non muslim, di dua kota ini kebenaran hakiki telah lahir dan di pegang teguh umat muslim.

Tapi jika dipandang dari sudut kemajuan pembangunan dan penataan tata kota. Empat Kota yang ada di lain benua ini sama-sama berpacu membangun infrastruktur dan mempersolek wajah kota.

Dalam perspektif peradaban, Philadelpia mempertahankan diri sebagai kota terindah dan damai. Philadelphia tetap dipertahankan, sebagai kota dengan bangunan peninggalan bersejarah. Tak ada pugar memugar, tetap di jaga keasliannya. Rumah, pagar, jalan, gang dan pekarangan sengaja dengan gaya lamanya.

Otomatis Kota tua ini sudah stagnan tidak lagi memugar dan membangun gedung baru. Luas jalan tetap sempit karena zaman penguasaan Inggris hanya untuk jalan delman.

Lain di New York pembangunan dengan teknologi canggih terus di geber. New York adalah sebuah kota canggih dan modern. Gedung WTC yang ditabrak pesawat, kini sudah dibangun lebih gagah dan megah. Di kota ini Istana Presiden Gedung Putih dengan segala kehebatan dan kemegahan berdiri kokoh.

Bagaimana Makkah dan Madinah, nyaris semuanya dipugar. Hanya Ka'bah yang asli, lainnya sudah diubah dengan bangunan baru. Masjidil Haram, Masjid Nabawi tidak luput dari perbaikan dan perluasan. Pengembangan ini karena terkait dengan kunjungan umat Islam yang terus berjubel setiap detik.

Membandingkan Arab - Amerika, dan dua kotanya Makkah - Madinah dengan Philadelpia - New York. Kedua negara ini bersahabat, walau berbeda gaya dan agama. Kesamaan di kedua negara sama-sama makmur rakyatnya.

Tentang keberpihakan dalam problematika umat manusia semua negara berinduk kepada PBB. Tentang arah kiblat sholat umat Islam negara Islam sejagat raya ke Makkah. Tapi kiblat teknologi negara barat Amerika masih menguasainya.

Keberpihakan pada dinamika politik modern, tidak semua negara muslim sepaham dengan langkah Arab Saudi. Arab memang kiblat sholat, karena ada Ka'bah - tetapi tidak pada kiblat politik, ekonomi dan tekhnologi.

Sedangkan Amerika, dalam berbagai keputusan terkait problematika dunia bersikap terang-terangan memihak kepada sekutu dan negara sahabatnya. Soal Pelestina dan Yerusalem, Amerika tidak pernah sejalan dengan sikap negara-negara muslim.

Sementara sesama negara muslim sendiri juga tidak seirama dalam membantu negara Palestina, Bahkan Arab Saudi juga terkesan bersikap mendua. Sehingga Masjidil Aqsa arah kiblat pertama umat muslim ini, masih terus bersengketa. Inilah Amerika dengan kekuatan ekonomi, teknologi dan militernya. Dan di sanalah Arab Saudi dengan keistimewaan dan kekurangannya.
Semoga saja negara i
Indonesia di era tahun 2030 nanti Indonesia bisa menjadi negara yang makmur serta sejahtera dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

 

Bagikan Berita Ini: