Dua Sisi Tajam Media (Anti) Sosial

    Dibaca 196 kali

Oleh : Nurlida Wahyuni

Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Ekasakti Padang Sumatera Barat

 

KEBERADAAN smartphone sudah menjadi barang primer yang sangat dibutuhkan dan sering disandingkan dengan kebutuhan penting lainnya, seperti; pangan, sandang, dan papan.

Smartphone merupakan salah satu kemajuan teknologi modern yang diakui banyak kalangan telah memudahkan dalam banyak hal. Penggunaan smartphone benar-benar memberikan berbagai kemudahan, tak hanya memudahkan komunikasi, tapi smartphone bisa digunakan untuk berfoto, merekam moment, belajar dan lain sebagainya.

Smartphone sudah menjadi induk dalam segala jenis media sosial sehingga kebutuhan akan smartphone menjadi sesuatu yang amat penting untuk dimiliki.

Media sosial merupakan sebuah istilah untuk berbagai macam aplikasi yang sering digunakan untuk orang berkomunikasi, bersosialisasi dan hal lainnya yang berkaitan tentang lingkup komunikasi tanpa harus bertatap muka. Dengan adanya media sosial, kita hanya perlu menggerakan jempol kita untuk menelpon, mengirim pesan, atau videocall (menelpon dengan video). Hal ini merupakan sebuah keajaiban yang tak pernah terpikirkan pada abad sebelumnya.

Media sosial yang ada saat ini memiliki berbagai efek, baik positif maupun negatif. Ibarat pisau, kita bisa menggunakannya sebagai alat untuk memotong bahan-bahan masakan atau untuk melukai orang lain. Penggunaan media sosial secara positif dan negatif di antaranya;


1). Sebagai Alat Kampanye

Positif : Dalam artian ini, alat kampanye untuk mengajak orang – orang bergerak dalam membangun Negara. Contohnya, sebagai kampanye anti korupsi, kampanye menjaga bumi dengan menanam dan tidak buang sampah sembarangan, dan juga kampanye lainnya yang bersifat positif.

Negatif : Menjadi alat untuk Black Campaign, yaitu; menjatuhkan seseorang, kelompok, atau yang lebih besar dari itu, demi meraup keuntungan dari jatuhnya orang yang terkena Black Campaign. Black Campaign di dunia maya adalah hal yang biasa terjadi saat ini, bahkan banyak sekali masyarakat yang mudah terpancing sehingga dengan mudah terpengaruh karena Black Campaign. Misalnya saja, kampanye dengan menjelek-jelekkan salah satu pasangan calon gubenur dan wakil gubenur di daerah Indonesia, sehingga bisa saja menghilangkan kepercayaan masyarakat kepeda pemimpin.

2). Sebagai media penyebar info/berita

Positif : Kita bisa dengan cepat mendapatkan informasi di belahan dunia manapun. Banyak sekali berita yang di-share di media sosial, sehingga kita bisa merespon dengan cepat berita yang bahkan di:bawah 1 menit yang lalu baru terjadi. Contohnya, pada hari Senin, 15 Januari 2018 baru saja terjadi runtuhnya gedung Bursa Efek Indonesia yang banyak menelan korban dan informasi itu bisa menyebar di segala media sosial dalam waktu kurang dari 1 menit.

Negatif : Terlalu banyak berita yang dibagikan membuat para penyebar berita HOAX semakin merajalela. Demi mendapatkan keuntungan, menambah viewer websitenya, sehingga, membuat berita yang fenomenal dan menarik tapi berisi kebohongan semata. Contohnya saja, kasus yang terjadi pada Agustus 2017 tentang adanya komplotan penyebaran berita hoax mengandung unsur Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) bernama kelompok Saracen. Saracen merupakan sindikat grup media sosial yang menyebarkan unsur SARA demi mendulang keuntungan. Dengan menyebarkan ujuran kebencian dan juga hal-hal bohong yang mampu memecah belah bangsa dan Negara.

3). Sebagai media untuk menyampaian pendapat

Positif : Kita mampu dengan mudah dan gamblang mengomentari atau memberikan pendapat terhadap suatu kejadian. Dengan mudahnya kita mengemukan pendapat, kita terlatih untuk peka dan kritis terhadap kejadian sekitar kita, sehingga, kita mampu mengawal pembangunan Negara. Misalnya saja, ada keluhan jalan rusak, mampu ditangani dengan cepat dengan menyebarkannya di media sosial agar pemerintah melihat kondisi yang ada.

Negatif : Dengan mudahnya kita menyampaikan pendapat, kita sampai kebablasan dalam memberikan suara kita di dunia maya. Banyaknya kata-kata yang tidak layak dipublikasi sampai dengan mencemarkan nama baik orang. Contoh kasus pencemaran nama baik terjadi pada artis Indonesia, Deddy Corbuzier dan Chika Jessica yang dicemooh dengan jelas di kolom komentar Instgramnya, sehingga Deddy mengadakan sayembara untuk menemukan si pelaku pencemooh ini dan akhirnya tertangkap.

Dalam mengatasi permasalahan pelanggaran di media sosial, Pemerintah mengatur undang-undang tentang ITE yang menjadi langkah awal demi menjaga pergerakkan negatif media sosial yang digandrungi oleh oknum yang mengejar keuntungan semata dan ingin memecah belah bangsa. Selain peran pemerintah, kita sebagai masyarakat Indonesia harus bijak dalam menggunakan media sosial, sehingga dapat menekan efek negetif yang ditimbulkan media sosial dan menjadi alat yang lebih banyak memberikan kesan positif dalam penggunaannya. (*)

Bagikan Berita Ini: