Murid SD KoSamJa Kolaborasi Baca Puisi dengan Pelukis Tanah Liat

    Dibaca 291 kali

 

MAKASSAR, LATEMMAMALA.CIM; -- Kolaborasi live painting antara pelukis tanah liat, Zaenal Beta, dengan pembacaan puisi oleh dua murid SDN Kompleks Sambung Jawa, masing-masing AM Fajar Ramadhan (kelas 4) dan Ainun Nadya Utina (kelas 3), benar-benar memukau. Suara lantang anak-anak yang membaca puisi bertema lingkungan hidup itu seolah diterjemahkan ke dalam gambar oleh Zaenal Beta hanya dalam hitungan sekira 5 menit.

Kolaborasi unik antardua generasi ini merupakan bagian dari acara pembukaan Penguatan Program Sekolah Ramah Anak, Sekolah Adiwiyata dan Sekolah Model di SDN Kompleks Sambung Jawa, Jln Baji Gau 1 Makassar, Kamis, 18 Januari 2018. Setelah kolaborasi itu, pelukis tanah liat, Zaenal Beta, juga memberikan tutorial kepada lebih dari 400 siswa.

 

Padahal sebelumnya, direncanakan hanya 100 siswa yang akan menggambar bersama. Tapi karena anak-anak berminat dan bersemangat, apalagi mereka juga dihibur oleh pendongeng Mami Kiko, maka diputuskan untuk mengajak siswa-siswa yang lain. Jadi boleh dikatakan, hampir seisi sekolah menggambar bersama yang dilakukan melalui 2 sesi. Sesi pertama terdiri dari kelas 1, 2 dan 3. Sedangkan sesi kedua terdiri dari kelas 4, 5 dan 6.

Zaenal Beta dan Rusdin Tompo dari LISAN merupakan fasilitator yang akan memberikan beberapa workshop yang berkaitan dengan pengembangan kreativitas dengan pendekatan seni, media dan tulis-menulis. Sebagai aktivis hak dan perlindungan anak, Rusdin Tompo juga akan mengembangkan konsep-konsep partisipasi anak untuk membangun motivasi dan kesadaran kritis mereka.

Kepala SDN Kompleks Sambung Jawa, Fahmawati, S.Pd, M.Pd, menjelaskan bahwa pendekatan seni digunakan supaya anak-anak mendapat pembelajaran yang lebih menyenangkan. Dikatakan, menggambar dengan tanah liat untuk memberikan contoh kepada siswa bahwa seorang yang kreatif akan jeli memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Misalnya, menggambar dengan tangan tanpa kuas, memanfaatkan alam yang ada, dalam hal ini tanah, dengan menggunakan wadah dari bekas gelas air mineral.

Sebagai sekolah adiwiyata, kata Fahmawati, ia dan guru-guru berupaya mendekatkan anak-anak kepada lingkungan dan alam sekitar. Anak-anak diperbiasakan memanfaatkan alam agar mereka ikut merawat alam yang sudah berjasa bagi kehidupannya. Model pembelajarannya bukan hanya menjaga kebersihan tapi juga bagaimana memanfaatkan limbah untuk sesuatu yang kreatif dan bermanfaat. Seperti membuat kerajinan tangan dan mainan-mainan yang langsung bisa digunakan anak-anak.(sul)

 

 

Bagikan Berita Ini: