Parpol Bagaikan Mobil Rental

    Dibaca 96 kali

 

Citizen Reporter

Laporan : Darsil Yahya M

Aktivis Pers Kampus Universitas Sawerigading Makassar


MAKASSAR, LATEMMAMALA.COM; -- Kondisi sekarang ini partai politik diharapkan menjadi lembaga yang melahirkan pemimpin dalam hal ini bupati, Walikota dan gubernur tapi dalam proses perjalanan partai ini, partai itu malah dijadikan semacam mobil rental.

Demikian disampaikan Dr. Muh  Yahya Mustafa, M.Si saat menjadi narasumber pada dialog publik diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasantri (BEM) Pendidikan Ulama Tarjih Unismuh Makassar di Lt 2 Ruang Redaksi Harian Tribun Timur, Jl. Cendrawasih No. 430, Sambung Jawa, Mamajang, Kota Makassar, Jum'at (19/1/2018).

Dekan Fisipol Unsa Makassar ini juga mengatakan, seharusnya partai itu digunakan oleh para elit partai atau para pimpinan partai menjadi jalan untuk menjadi calon Bupati.

"Tapi karena itu tadi, lebih kuat transaksionalnya disitu sehingga elit partai itu yah kadang mentransaksikan partai itu untuk dikendarai oleh orang, kalau diibaratkan mobil rental, disewa selesai dipakai yah dikembalikan kepada yang bersangkutan atau biasa disimpan di tengah jalan", ucapnya.


Ditambahkan juga pria kelahiran Kahu Bone 1965 ini, mengatakan, Itu yang terjadi sehingga ketika kondisi ini tidak bisa diubah, kita tidak bisa berharap untuk lahir pemimpin yang kuat dan tangguh karena dia tidak berbasis di partai. 

"Di demokrasi modern instrumen itu dari partai politik jadi ketika partai politik tidak kuat hampir pasti pemimpin yang terpilih tidak akan kuat juga.

Karena dalam kehidupan bernegarakan ada lembaga legislatif dimana lembaga legislatif itu minimal memberikan dukungan kepada eksekutif, nah kalau dia tidak punya akar kuat di partai itu maka akan menggangu program kerja dan sebagainya," ucap mantan wartawan Harian Pedoman Rakyat tahun 1991 ini.

Alumni Politik Fisip Unhas 1989 ini juga mengatakan kepada media, kita sekarang berada di era digital, di mana era digital itu identik dengan globalisasi, globalisasi itu tidak ada jarak lagi antara ruang dan waktu, tempat dan sebagainya.

Semua menyatu dan salah satu indikator global itu adalah kecepatan dan percepatan teknologi informasi, nah terkait dengan dialog tadi dalam kondisi digital ini, ummat (Islam) seolah berada di persimpangan jalan.

Apakah dia mau bertahan dengan kondisi yang ada saat ini di tengah ummat atau dia harus mengikuti perubahan yang terjadi atau melakukan semacam lompatan-lompatan.

Di sinilah problem ketika ummat tidak siap untuk ikut globalisasi itu, berarti akan tertinggal tapi di sisi lain juga ummat kita masih butuh memang penguatan, masih butuh pemberdayaan karena kalau tidak, dia (ummat) akan tertinggal buat selamanya di dalam perubahan jaman yang sangat luar biasa ini, tegas Doktor Sosiologi Politik PPs UNM 2016 ini.

Selain Dr. Muh, Yahya Mustafa, yang jadi pemateri dialog publik yang bertema "Mencari Posisi Ummat di Era Digitalisasi" yakni; Dr. Mahmud Nuhung, MEI, Arqam Azikin, Dr. Abd. Azis Muslimin, M.Pd.I M.Pd, serta yang menjadi moderator dalam kegiatan tersebut yakni Drs. H. M. Husni Yunus, M.Pd.I.

Bagikan Berita Ini: