Jimly Asshiddiqie Keynote Speaker pada Diskusi Kebangsaan di UNP

    Dibaca 175 kali

 

PADANG, LATEMMAMALA.COM; -- Universitas Negeri Padang (UNP) menggelar Diskusi Kebangsaan di Padang, Rabu, 24 Januari 2018.

Diskusi ini menghadirkan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Pusat Prof. Dr. H. Jimly Asshiddiqie.

Diketahui, UNP, selama dalam kepemimpinan Rektor Prof. Ganefri PhD, yang mendapat amanah kurun waktu 2016-2020 ini, telah menghadirkan tokoh-tokoh dari kalangan birokrasi pemerintahan seperti menteri, tokoh pengusaha sukses dan tokoh politik, ustad serta tokoh kalangan militer, sesuai moment-nya.

Diskusi Kebangsaan ini diikuti Keluarga Besar anggota senat universitas civitas akademika UNP serta Presiden BEM UNP, Tanzila Wanda Rizki dan Ketua MPM BEM, Satria Oktavianus

Rektor UNP, Prof. Dr. Ganefri pada kesempatan itu, menyampaikan informasi terkini tentang UNP, yang mengalami perubahan dari sejak berdirinya hingga sebagai instansi pertama yang menjadi Badan Layanan Umum di tahun 2015. Bahkan Rektor UNP, Prof Ganefri, PhD yang pernah menjabat Koordinator Kopertis Wilayah X, Sumbar langsung memoderatori Dikusi Kebangsaan dengan Tokoh Nasional dari Palembang, Sumsel ini.

Sesi pertama Prof Jimly Asshiddiqie, menghargai dinamisasi masyarakat Sumatera Barat. Kepedulian masyarakat Sumbar terhadap perkembangan kebangsaan yang terjadi saat ini.

Guru Besar FHUI ini juga mengutip hadis yang diriwayatkan Abu Daud, “jika kalian bepergian bertiga, angkatlah salah seorang sebagai pemimpin.” Dan membandingkan juga dengan sikap masyarakat Cina, yang maksudnya, "jika kalian berpergian bertiga, satu di antarnya dipastikan adalah guru di antara mereka," paparnya.

Selain kutipan hadist, cendikiawan yang produktif menulis buku ini mengungkapkan, slogan, "Guru Digugu dan Ditiru." Slogan ini diyakini memiliki makna yang dalam bagi kehidupan seorang guru. Landasan falsafah di balik slogan ini adalah, sosok seorang guru dapat dipercaya dan ditiru.

Ini mengisayaratkan, dalam berbagai kegiatan kehidupan, masyarakat berharap, guru sebagai tauladan. Ketika di sekolah guru menjadi panutan bagi siswanya, papar doktor Tata Negara ini.

"Kepada jajaran civitas akademika, saya ajak UNP yang produktif melahirkan guru-guru masa depan juga divisikan untuk melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan," ajaknya.

Dikatakan, seorang guru mesti bertanggungjawab untuk menjadi tauladan bagi lingkungan. Karena sang guru adalah sosok seorang yang menampilkan sikap moral yang luhur," ujarnya.

UNP, lanjut Jimly, mempunyai posisi yang strategis dalam perjuangan bangsa di masa mendatang, melahirkan para guru atau pemimpin masa depan yang berkualitas.

Ia juga mengupas isu-isu kebangsaan lainnya, dan menyarankan civitas akademika tidak terjebak pada tujuan jangka pendek, namun bervisi tujuan jangka panjang, ungkapnya.

"Saat ini, di Tanah Air kita, perilaku menyimpang meluas di kalangan masyarakat, walaupun pada saat yang sama, sarana-sarana ibadah dipenuhi jemaah, bersamaan dengan itu banyak politisinya bermasalah, sistem hukumnya dipengaruhi suap dan ancaman mafia, penjaranya pun penuh sesak dimana-mana.

Dengan kondisi negara kita ini, kalangan pendidik, para guru, bisa jadi tempat menggantungkan harapan akan negara yang lebih baik ke depan, kata Jimly.

Soal isu kerukunan umat beragama, Jimly Asshidiqie, mengimbau civitas akademika UNP agar tidak terjebak hanya dalam konteks benar atau salah. Bersikap seperti itu dinilai dapat melemahkan hubungan antar umat beragama di Indonesia, harapnya.

Dikatakan, jika terjebak pada konteks benar atau salah dalam beragama membuat mudah menilai orang lain suka atau tidak sehingga berdampak kebencian. Bahkan tambahnya, semakin parah bila hanya diakui oleh kelompok-kelompok tertentu yang merasa paling benar dari sisi apapun.

"Kita harus saling terbuka, seperti pertemuan ini, amat saya hargai. Di dunia sekarang ini, kita harus tetap menyadari perbedaan dan saling menghormati," kata Jimly.

Diskusi yang diinisiasi Mantan Rektor Muhammadiyah, Shofwan Karim ini, memberikan kesempatan peserta menanggapi paparan pemateri pada sesi tanya jawab, dipandu moderator diskusi, Prof. Ganefri. Suasana diskusi tampak berjalan dinamis.

Penyerahan cenderamata dari UNP kepada Jimly Asshidiqie yang juga Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), 2012-2017 itu, menutup diskusi yang digelar UNP tersebut. (release humas unp/ibnu sultan)

 

Bagikan Berita Ini: