Konflik Terjadi, Umumnya Dipicu karena Benturan Kepentingan Ekonomi dan Politik

    Dibaca 275 kali


Prof. Dr. H. M. Galib, M.A saat memaparkan mata kuliah Filsafat Ilmu kepada mahasiswa Pasca Sarjana Magister Administrasi Pemerintahan Daerah di ruang A-5 Lt I Kampus UIT Makassar, Sabtu, 7 Oktober 2017.


MAKASSAR, LATEMMAMALA.COM; -- Sejumlah mahasiswa pasca sarjana Magister Administrasi Pemerintahan Daerah (MAPD) Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar mengikuti perkuliahan Filsafat Ilmu dari Dosen Prof. Dr. H. M.  Galib, MA, Sabtu, 7 Oktober 2017 di Kampus UIT Jl. Rappocini Raya Makassar.

Dihadapan mahasiswa, Prof. Galib mengungkapkan, dalam sejarah manusia, hampir semua konflik, bahkan perang sekalipun, karena dipicu benturan kepentingan, ekonomi dan politik.

Ia mencontohkan, kelahiran Muhammad, meski belum diangkat jadi nabi oleh Allah SWT, tetapi Muhammad kala itu sudah dijuluki Al-Amin (orang yang jujur) dengan ajaran Tauhid, yang memandang manusia dengan manusia lainnya adalah sama di mata Allah SWT dan antara laki - laki dan perempuan memiliki derajat yang sama.

Tetapi bagi penguasa Arab di jamannya, menganggap Muhammad adalah sebuah ancaman.
Ancaman kekuasaan (politik) dan ancaman ekonomi.

Dijelaskan, kaum Arab ketika itu menganggap patung adalah Tuhannya, dari segi ekonomi, tentu ini sangat menghasilkan karena para pembuat patung serta beberapa orang yang terlibat di dalamnya akan dapat meningkatkan pendapatan ekonomi dan ketika itu, ekonomi dikendalikan oleh penguasa.

Lahirnya Muhammad dengan ajaran tauhidnya praktis melumpuhkan pendapatan ekonomi pembuat patung, penguasa pun merasa terusik, karena bagi Muhammad, tidak ada yang bisa disembah selain Allah SWT. Dan jika manusia adalah sederajat, berarti penguasa turun derajatnya disamakan dengan para budaknya.

Konflik pun tak dapat dihindari, antara pengikut ajaran Muhammad dan penguasa Arab ketika itu,

Propaganda penguasa pun dikemas sedemikian rupa untuk mempengaruhi rakyatnya seolah Nabi Muhammad SAW adalah sumber malapetaka.

Para pengikut Nabi Muhammad SAW pun tetap melakukan pembelaan hingga perang pun tak terhindarkan.

Prof. Galib pun memberikan contoh lainnya dalam memperkuat pernyataannya kalau konflik terjadi karena benturan antara kepentingan yang pada umumnya dipicu dari ekonomi dan politik.

Salah satu mahasiswa, Hidayat, Pemimpin Umum Media Online Lamellong.com, justru melihat kalau konflik terjadi karena dipicu perbedaan idiologi, meski ekonomi dan politik mempengaruhi dalam memperparah konflik. (din)

 

Bagikan Berita Ini: