Galang RRI, Pemkab Bone Gelar Dialog Budaya Sambut Hari Pahlawan 2017

    Dibaca 157 kali

 

WATAMPONE, LATEMMAMALA.COM; -- Menyambut Hari Pahlawan 2017, Pemerintah Kabupaten Bone bersama RRI Makassar menggelar Dialog Budaya di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Bone Jl. Petta Ponggawae No.1 Watampone, Sabtu, 4 November 2017.

Selain Bupati Bone Dr. H. Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, M.Si, dialog ini juga menghadirkan Nara sumber Dewan Pengawas RRI Tantri Relatami, Anggota DPR RI Andi Rio Padjalangi, dan Tokoh Budayawan Bone Andi Youshand Tenritappu.

Bupati Bone H.Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, selaku naeasumber di hadapan peserta dialog menguraikan, kekentalan budaya orang Bone bukan hanya penampilan tetapi tertanam di sanubari setiap orang Bone dimana pun ia berada.

“Karakter orang Bone berasal dari tetesan perjuangan dan nilai kepahlawanan dari leluhur. Bone tetap mendahulukan budaya Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi. Semuanya itu tertuang dalam satu ikatan Sumange Teallara.”

Ketika karakter itu diganggu, lanjut Andi Fahsar, sifat lemah lembut itu bisa berubah menjadi keras dan itu adalah karakter yang tidak dibuat-buat, jelas Bupati.

Sementara menurut Dewan Pengawas RRI Tantri Relatami, kearifan lokal suatu daerah harus dijaga dan perlu dikaji, dan RRI mengambil peran dalam hal itu. RRI senantiasa berjuang di tengah gencarnya persaingan.

Karena itu, “Hoax bukan masalah kami, karena kami terlahir untuk memberikan informasi yang benar dan bagi kami setiap warga negara berhak mendapat informasi yang benar melalui penyiaran radio, tidak perlu sajikan berita tercepat karena buktinya berita online yang menyajikan berita tercepat justru paling banyak merevisi berita” tutur Tantri.

“RRI punya pro 4 yang khusus mengangkat budaya daerah, sangat konsentrasi menjaga kearifan lokal sehingga menjadikan kearifan itu sebagai identitas bangsa,” ungkapnya.

Sementara Budayawan Andi Youshand Tenritappu mengharapkan kegiatan dialog budaya seperti ini perlu diadakan secara berkesinambungan, kerja sama berbagai pihak sangat dibutuhkan.

”Budaya lokal sudah mulai tergerus, kearifan lokal sejatinya tetap eksist seiring dengan perkembangan zaman. Disadari, Budaya itu ada yang bisa dilestarikan ada juga yang tidak sesuai, pilih yang terbaik itulah yang menjadi kearifan lokal,” harapnya. (din)

 

 

Bagikan Berita Ini: